1. Strategi efektifitas administrasi berbasis sekolah
Penerapan school based management di Indonesia memerlukan tahapan-tahapan tertentu. Tahapan tersebut sangat di perlukan untuk melihat keterkaitan dengan akomodasi dan persiapan personalia pelaksanaannya. Pentahapan school based manajement ini di tentukan oleh Samani (1990:10) yang dikutip Suryarma (2003), sebagai berikut :
a) Tahapan sosialisasi, tahapanini meliputi konsep school based management dan koridor yang berlaku secara nasional serta wilayah kebebasan yang dimiliki sekolah.
b) Tahapan piloting, dalam penerapan konsep school based management secara masal terlalu riskan lantaran wilayah indonesia luas dan tipe sekolah bermacam, ibarat tipe penuh, tipe menengah dan tipe minimal.
c) Tahapan desimiesi, pada tahap ini ialah melakukan desiminesi konsep school based management secara sedikit demi sedikit dan hati-hati, hal in di sebabkan lantaran karena sekolah sangat banyak, kondisi geografis dan sosial ekonomi masyarakat yang sangat bermacam-macam serta dana pendukung relaitf terbatas.
Menurut Samani dan Sufyarma, mengemukakan bahwa dalam piloting di perlukan sekolah tertentu sebagai model uji coba. Ada beberapa syarat yang di perlukan dalam piloting antara lain : (1) Aksetabilitas, konsep school based management sanggup di terima oleh masyarakat khususnya kalangan pendidikan. (2) akuntabilitas, penerapan konsep school based management di sekolah sanggup di pertanggungjawabkan seecara konseptual, operasional, aktivitas dan keuangan. (3) rekabilitas, model school based manajement yang telah di uji di cobakan pada terhadap piloting sanggup di replikasi pada sekolah lain. (4) sustainbilitas, agenda school based management sanggup berkemban secara terus menerus, walaupun tahap uji coba telah di hentikan.
2. Model administrasi berbasis sekolah (Australia)
Manajemen berbasis sekolah merupakan refleksi pengelolaan desentralisasi pendidikan di Australia, sesuai dengan namanya, administrasi berbasis sekolah menempatkan sekolah sebagai forum yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan kebijakan menyangkut visi misi dan tujuan atau target sekolah yang membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum sekolah dan program-program operatif lainnya.manejemen berbasis sekolah dibangun dengan memperhatikan kebijakan dan derma dari pemerintahan negera dan partisipasi masyarakat melalui school council serta parent and community assosiasion.
3. Keterlibatan masyarakat pada efektifitas administrasi berbasis sekolah
Menurut mulyasa, hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain:
a. Untuk memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak
b. Memperoleh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.
c. Merangsang masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah
Tujuan hubungan orang renta dengan sekolah berdasarkan Mulyasa,dimaksudkan biar orang renta mengetahui banyak sekali aktivitas penerima didik dan juga biar orang renta murid mau memberi perhatian yang besar dalam menunjang program-program sekolah.Tujuan hubungan sekolah dan orang renta penerima didik antara lain sebagai berikut:
a.saling membantu dan isi mengisi
b.Bantuan keuangan dan barang-barang
c. Untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang kurang baik
d. Bersama-sama menciptakan rencana yang baik untuk sang anak
4. Sistem pendidikan nasional yang di perlukan masyarakat masa depan
Dalam koridor reformasi,otonomi pendidikan mempunyai dua arti:pertama ialah menata kembali sistem pendidikan nasional yang sentralistis menuju kepada suatu sistem yang memperlihatkan suatu kesempatan luas kepada inisiatif masyarakat. kedua,yang sanggup diamati ialah otonomi pendidikan bukan berarti melepaskan segala ikatan untuk membangun negara kesatuan Republik Indonesia otonomi pendidikan justru berarti memperkuat dasar dasar pendidikan pada tingkat Grass-root untuk membentuk suatu masyarakat Indonesia yang bersatu berdasarkan kebhinekaan masyarakat kita.