Agar pembelajaran berlangsung secara efektif, Nunan (1989) dan Richards (1994) menyarankan semoga acara yang dilakukan siswa di dalam kelas itu kondusif, guru hendaknya menyiapkan materi asuh yang bermakna bagi siswa, memotivasi mereka dalam belajar, dan sanggup melibatkan seluruh siswa. Dalam konteks ini, guru sebaiknya bertindak sebagai fasilitator dan model saja (Breen, 1980) atau dalam istilah Canale (1980) “sebagai pencipta suasana yang aktif”.
Secara lebih spesifik, Marion Williams dan Robert L. Burden (1997) mengemukakan beberapa kiat untuk membuat kelas yang efektif menyerupai berikut.
- Menciptakan suasana ruangan kelas yang nyaman dan menyenangkan
- Mengendalikan kelas ke arah pembelajaran
- Menyajikan acara yang menarik dan sanggup memotivasi siswa
- Menyediakan suasana yang membuat siswa memahami materi yang diajarkan
- Menerangkan secara terang apa yang harus dilakukan dan diraih siswa
- Menimbang hal-hal yang dibutuhkan dari siswa
- Membantu siswa dalam menghadapi aneka macam kesulitan
- Mendorong siswa untuk memunculkan apa yang dibutuhkan dari dirinya
- Mengembangkan kesantunan dalam berinteraksi dengan siswa lain
- Mendorong siswa untuk mendementrasikan talenta dan pengetahuannya
- Memberikan uraian materi secara jelas
- Memperlihatkan antusiasme
- Memvariasikan acara selama acara pembelajaran
Demikianlah, hal terpenting yang harus dilakukan guru bahasa aneh di dalam kelas dengan menerapkan model kurikulum yang berbasis pada standar kompetensi ialah bahwa acara pembelajaran hendaknya berpusat pada penerima didik (learner-centered curriculum), pembelajaran terfokus pada penguasaan siswa atas sejumlah kompetensi, dan penciptaan suasana mencar ilmu yang efektif dan menyenangkan.